SCM dan Supply Chain Partners: Fungsi, Jenis, dan Cara Mengelolanya dengan ERP

28-09-2022 14:03:00, Dibaca: 5941

Ilustrasi supply chain management dan jaringan mitra bisnis

SCM (Supply Chain Management) atau manajemen rantai pasok adalah proses pengelolaan seluruh aliran barang, informasi, dan keuangan mulai dari pemasok bahan baku hingga produk sampai ke tangan konsumen akhir. Dalam SCM, peran supply chain partners — mitra yang terlibat di setiap tahap rantai pasok — sangat menentukan kelancaran produksi dan distribusi. Bagi UKM Indonesia yang bergerak di sektor manufaktur, retail, maupun distribusi, memahami dan mengelola SCM secara terstruktur adalah kunci efisiensi operasional.

⏱ Estimasi baca: 5 menit

Apa Itu Supply Chain Partners dalam SCM?

Dalam sistem SCM, supply chain partners adalah seluruh pihak eksternal yang terlibat dalam rantai pasok perusahaan — mulai dari pemasok bahan baku di hulu hingga distributor dan retailer di hilir. Secara umum, mitra rantai pasok dibagi menjadi dua kategori utama:

1. Upstream Partners (Mitra Hulu)

Upstream partners adalah mitra yang berperan dalam proses sebelum atau selama produksi berlangsung. Fungsi utama mereka adalah memasok bahan baku, komponen, atau material yang dibutuhkan perusahaan untuk menghasilkan produk. Tanpa pasokan hulu yang andal, lini produksi bisa terhenti dan mengganggu seluruh rantai pasok.

2. Downstream Partners (Mitra Hilir)

Downstream partners bertugas memastikan produk yang sudah jadi sampai ke konsumen akhir melalui jalur distribusi yang tepat. Mereka bisa berupa distributor, agen, atau retailer. Pengelolaan jumlah stok yang didistribusikan oleh mitra hilir perlu diukur dengan cermat agar tidak terjadi overstocking maupun kekosongan stok.

7 Fungsi Supply Chain Partners bagi Perkembangan Bisnis

Mitra rantai pasok tidak sekadar membantu proses logistik. Dalam SCM yang matang, mereka menambah nilai bisnis melalui tujuh peran berikut:

  1. Information — Mitra hilir yang bersentuhan langsung dengan konsumen dapat meneruskan feedback pasar kepada produsen, membantu perusahaan memperbaiki produk berdasarkan data nyata.
  2. Promotion — Distributor dan retailer turut menyampaikan informasi promosi kepada konsumen, misalnya saat transaksi di kasir atau display produk di toko.
  3. Matching — Mitra hilir membantu mencocokkan produk dengan kebutuhan pembeli, termasuk merakit, mengemas ulang, atau menata produk sesuai segmen pasar lokal.
  4. Negotiating — Distributor dapat menjadi perantara negosiasi harga antara perusahaan dan konsumen, sehingga produsen tidak perlu merespons setiap permintaan negosiasi secara langsung.
  5. Physical Distribution — Mitra hilir mengambil alih distribusi fisik ke toko-toko, menghemat biaya transportasi yang signifikan bagi perusahaan.
  6. Financing — Distributor umumnya mengelola program loyalitas konsumen secara mandiri menggunakan margin mereka sendiri, sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk retensi pelanggan.
  7. Risk-taking — Proses sortir di tingkat mitra memungkinkan deteksi dini produk yang rusak atau bermasalah sebelum sampai ke konsumen, meminimalkan risiko klaim dan reputasi negatif.

Konflik yang Mungkin Terjadi dalam Saluran SCM

Ilustrasi konflik horizontal dan vertikal dalam supply chain management

Konflik dalam SCM adalah hal yang wajar, namun harus dikelola agar tidak mengganggu kelancaran bisnis. Ada dua jenis konflik yang umum terjadi:

Horizontal Conflict

Konflik horizontal terjadi di antara mitra pada level yang sama, misalnya antara dua retailer yang menjual produk serupa dengan harga berbeda sehingga saling bersaing memperebutkan konsumen yang sama.

Vertical Conflict

Konflik vertikal terjadi antara mitra di level berbeda dalam rantai pasok, misalnya ketika supplier terlambat mengirim barang ke distributor sehingga target distribusi tidak tercapai tepat waktu.

Cara Manual vs Dengan Software ERP dalam Mengelola SCM

Salah satu tantangan terbesar dalam SCM adalah memantau alur stok dan koordinasi antar mitra secara real-time. Berikut perbandingan pengelolaan SCM secara manual dibandingkan menggunakan software ERP:

Aspek Cara Manual Dengan Software ERP
Pemantauan stok Cek fisik per gudang satu per satu Real-time dari back office, semua gudang dan outlet sekaligus
Notifikasi stok menipis Diketahui setelah stok habis Notifikasi otomatis sistem sebelum stok habis
Koordinasi antar departemen Melalui email/chat, rawan miskomunikasi Data terintegrasi, semua departemen akses informasi yang sama
Akurasi data Rentan kesalahan input manual Data tersinkronisasi otomatis setiap transaksi
Laporan keuangan Dibuat manual, memerlukan waktu lama Generate otomatis, per outlet maupun keseluruhan
Risiko overstocking Tinggi — sulit prediksi kebutuhan Rendah — data historis membantu perencanaan pengadaan

Peran Software ERP dalam Manajemen Rantai Pasok (SCM)

Software ERP (Enterprise Resource Planning) dirancang untuk mengintegrasikan seluruh komponen operasional bisnis dalam satu sistem terpusat. Dalam konteks SCM, ERP memungkinkan pemilik bisnis memantau alur persediaan di berbagai gudang dan outlet secara real-time tanpa harus mengecek secara fisik satu per satu.

Erzap, sistem ERP buatan Indonesia yang telah melayani 5.000+ pengguna aktif sejak 2013, menyediakan fitur manajemen inventori yang memungkinkan pengelolaan stok lintas gudang dan outlet secara terintegrasi. Setiap perubahan stok — baik akibat penjualan, penerimaan barang, maupun transfer antar gudang — langsung tercermin di sistem secara otomatis.

Keunggulan ERP untuk Kelancaran SCM

  • Efisiensi operasional — Departemen yang berbeda dapat memantau perkembangan satu sama lain secara langsung, mengurangi hambatan komunikasi dan mempercepat pengambilan keputusan.
  • Standardisasi proses — Seluruh aktivitas bisnis mengacu pada satu sumber data yang sama, menciptakan sistem yang terstruktur dan mudah diaudit.
  • Peningkatan profitabilitas — Dengan meminimalkan kesalahan dan mengotomasi proses berulang, biaya operasional dapat ditekan sehingga margin keuntungan meningkat.
  • Manajemen multi-gudang — Dengan konsep Outlet dan Gudang di Erzap, bisnis yang memiliki banyak cabang atau lokasi penyimpanan dapat mengelola stok masing-masing secara terpisah namun tetap terpantau dari satu back office.

Pelajari lebih lanjut tentang fitur pengelolaan stok Erzap di artikel ini.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang SCM dan Supply Chain Partners

Apa perbedaan SCM dan supply chain?

Supply chain adalah jaringan pihak-pihak yang terlibat dalam aliran barang dari produsen ke konsumen. Sedangkan SCM (Supply Chain Management) adalah proses aktif dalam mengelola, mengkoordinasikan, dan mengoptimalkan seluruh jaringan tersebut agar berjalan efisien.

Siapa saja yang termasuk supply chain partners?

Supply chain partners mencakup pemasok bahan baku (upstream), produsen, distributor, agen, retailer, hingga perusahaan logistik (downstream). Semua pihak yang berkontribusi dalam aliran produk dari sumber hingga konsumen akhir termasuk dalam kategori ini.

Mengapa manajemen SCM penting untuk UKM?

UKM yang sudah memasuki tahap distribusi multi-channel atau memiliki beberapa gudang perlu sistem SCM yang terstruktur untuk mencegah kekosongan stok, menghindari kelebihan persediaan, dan memastikan pengiriman tepat waktu — semua faktor yang langsung berdampak pada kepuasan pelanggan dan profitabilitas.

Bagaimana ERP membantu mengelola supply chain partners?

ERP mengintegrasikan data pembelian, stok, penjualan, dan keuangan dalam satu sistem. Ini memungkinkan bisnis melacak pesanan dari pemasok, memantau stok di setiap gudang, dan mengkoordinasikan distribusi ke mitra hilir secara real-time — tanpa perlu proses manual yang rawan kesalahan.

Apakah UMKM perlu menggunakan sistem ERP untuk SCM?

Untuk usaha mikro (UMKM) yang baru memulai, sistem ERP lengkap belum tentu dibutuhkan. Namun UKM yang sudah memiliki beberapa cabang, gudang, atau jalur distribusi akan sangat diuntungkan dengan ERP karena kompleksitas operasionalnya sudah membutuhkan sistem terintegrasi.


Erzap adalah sistem ERP Indonesia dengan 17 modul terintegrasi dan 81+ fitur yang dirancang khusus untuk kebutuhan UKM di sektor retail, distribusi, manufaktur, dan F&B. Dengan pengalaman 13+ tahun sejak 2013 dan lebih dari 5.000 pengguna aktif, Erzap membantu bisnis Anda mengelola rantai pasok secara lebih terstruktur dan efisien.

Jenis-Jenis Pricing Strategy dan Cara Memilih Strategi Harga yang Tepat

Jenis-Jenis Pricing Strategy dan Cara Memilih Strategi Harga yang Tepat

26-09-2022 - Dibaca: 18958 kali.
Panduan lengkap pricing strategy untuk bisnis: dari skimming, penetrasi, bundling, hingga diskon. Temukan strategi harga yang tepat untuk UKM Anda.
Baca selengkapnya...
Software as a Service (SaaS): Pengertian, Karakteristik, dan Manfaat untuk UKM

Software as a Service (SaaS): Pengertian, Karakteristik, dan Manfaat untuk UKM

25-04-2026 - Dibaca: 346 kali.
Pahami SaaS: pengertian, karakteristik, perbandingan SaaS vs on-premise, dan manfaat nyata untuk UKM Indonesia dengan platform ERP terintegrasi.
Baca selengkapnya...
Sinkronisasi Tokopedia

Sinkronisasi Tokopedia

12-12-2020 - Dibaca: 13048 kali.
Punya Toko di Tokopedia? Sudaha pakai Erzap? Good! Kalo begitu anda sudah siap untuk kelola Toko-toko pada Tokopedia via Erzap? Check this Tutorial out!
Baca selengkapnya...
Menggunakan Fitur Hitung Kas pada Erzap

Menggunakan Fitur Hitung Kas pada Erzap

26-06-2019 - Dibaca: 10064 kali.
Fitur ini umumnya akan digunakan oleh Kasir setiap selesai Shift/Closing, dimana Kasir akan menghitung Kas Fisik hasil penjualan atau Kas Kecil, dan menginputkan hasil perhitungan tersebut ke dalam Sistem.lalu Admin akan memeriksa hasil dari perhitungan kas tersebut, apakah ada selisih atau tidak. Bila terjadi selisih, Admin hendaknya meginfokan ke Kasir untuk menghitung kembali Kas Kecil yang jumlahnya selisih tersebut.
Baca selengkapnya...

Kontribusi Tourist Attraction terhadap Pendapatan Desa dan Peluang Usaha Mini Market

29-10-2022 - Dibaca: 3149 kali.
Pelajari kontribusi tourist attraction terhadap pendapatan desa dan peluang usaha mini market. Strategi kelola bisnis retail wisata dengan sistem ERP.
Baca selengkapnya...